Bingung Milih Usaha?
Daripada kamu bengong, bingung milih usaha, lebih baik coba kamu buka-buka web saya, siapa tahu ada bisnis yang bisa kamu pilih... Klik aja ...
Butuh Info Penyakit?
Dunia makin berkembang, demikian juga dengan penyakit, nah dapatkan informasi berbagai penyakit dan obatnya disini... Klik aja...
Butuh produk Herbal Murah?
Disini anda bisa berbelanja nyaman, aman, mudah, beli eceran dengan harga grosiran, ga percaya? segera ke TE-KA-PE aja... Segera Cekidot...
Tips Nge-Blog
Ini adalah blog saya yang satu lagi, disini anda bisa dapatkan tutorial yang sempat saya posting disana, ada tips untuk blogger ada juga untuk wordpress... Meluncur deh...
Bacaanku
Butuh ilmu agama? Coba aja meluncur ke blog yang satu ini, kamu bisa acak-acak daftar isinya deh... Klik Aja ...
Kamis, 17 Maret 2011
MENGINJAK, DUDUK, DAN BUANG AIR DI KUBURAN.
Kita seringkali merasa khawatir saat menjalankan sebuah sunnah yang mulia yaitu mengantarkan jenazah entah itu sahabat kita, keluarga atau pun karib kerabat kita ke kubur.
Suatu sunnah yang mulia tersebut, kerap kali tertumpang tindih dengan sebuah kemaksiatan yang nilainya sangat buruk disisi syari'at Islam.
Tak jarang malah seringkali dibiarkan, tanpa ditegur ataupun di ingatkan, yaitu berdiri diatas sebuah kubur dan menginjak-injaknya sambil berlalu lalang.
Maka mudah-mudahan ini menjadi sebuah nasehat, bagi kita semua untuk kita sampaikan bahwa hal tersebut adalah sebuah keburukan. Sehingga kita menjadi lebih berhati-hati dalam hal menjalani sunnah yang mulia tanpa ternodai oleh sebuah kemaksiatan.
Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“seseorang dari kalian duduk diatas bara api sehingga terbakar bajunya hingga sampai ke kulitnya lebih baik baginya dari pada duduk di atas kuburan” (HR Muslim : 2/ 667).
Ketika mengubur mayit, sebagian orang ada yang tak mengindahkan jalan yang mesti di laluinya, sehingga di sana-sini menginjak kuburan, bahkan terkadang dengan sepatu atau sandal mereka, tanpa sedikitpun rasa hormat kapada yang sudah meninggal. Tentang besarnya persoalan ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Berjalan di atas bara api atau pedang atau menambal sepatu dengan kakiku sendiri, lebih aku sukai daripada aku berjalan di atas kuburan seorang muslim” (HR Ibnu Majah: 1/499 dalam Shahihul Jami’ : 5038).
Lalu, bagaimana dengan orang yang menguasai tanah kuburan, kemudian di atasnya di bangun pusat parbelanjaan atau perumahan elit? Na’udzubilah.
Sebagian orang yang tidak memiliki I’tikad baik apa bila ingin membuang air besar ia pergi ke kuburan kemudian buang air di atasnya sehingga mengganggu orang-orang meninggal dengan najis dan bau busuknya. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Dan aku tidak peduli, apakah aku buang air besar di tengah kuburan atau di tengah pasar” (HR Ibnu Majah, 1/499, Dalam Shahihul Jami’ 5038).
Artinya, keburukan buang air di kuburan sama dengan buruknya membuka aurat dan buang air besar di tengah-tengah orang banyak di dalam pasar. Orang yang suka melemparkan kotoran dan sampah ke dalam komplek kuburan, terutama kuburan-kuburan yang terpencil dan dindingnya mulai runtuh mereka akan mendapat bagian dari ancaman tersebut. Di antara adab yang perlu diperhatikan dalam ziarah kubur adalah melepas sandal dan sepatu saat ingin berjalan di antara sela-sela kuburan.
[Sumber : Dosa-dosa yang dianggap biasa]
Selasa, 15 Maret 2011
Cara Memasang Translator / Penerjemah di Wordpress
Caranya :
1. Login ke akun wordpress.
2. Klik Tampilan
3. Pilih widget teks
4. beri judul
5. Copy Paste kode di bawah ini :
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://bootingskoblog.files.wordpress.com/2009/01/indonesian.png" title="Indonesian"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|en&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/english.png" title="English"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|zh-CN&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/chinese.png" title="Chinese"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ko&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/korean.png" title="Korean"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|de&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/germany.png" title="Germany"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|fr&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/france.png" title="France"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ja&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/japanese.png" title="Japanese"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ar&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/arabian.png" title="Arabian"></a>
And You Can Click For The Other Language Translator
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|bg&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Bulgarian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|hr&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Croatian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|cs&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Czech</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|da&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Denmark</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|nl&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Dutch</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|fi&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Finnish</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|el&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Greek</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|hi&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Hindi</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|it&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Italy</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|pt&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Portuguese</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ro&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Romanian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ru&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Rusian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|es&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Spanish</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|sv&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Swedish</a>
Hasilnya seperti ini :








And You Can Click For The Other Language Translator
Bulgarian
Croatian
Czech
Denmark
Dutch
Finnish
Greek
Hindi
Italy
Portuguese
Romanian
Rusian
Spanish
Swedish
1. Login ke akun wordpress.
2. Klik Tampilan
3. Pilih widget teks
4. beri judul
5. Copy Paste kode di bawah ini :
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|en&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/english.png" title="English"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|zh-CN&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/chinese.png" title="Chinese"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ko&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/korean.png" title="Korean"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|de&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/germany.png" title="Germany"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|fr&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/france.png" title="France"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ja&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/japanese.png" title="Japanese"></a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ar&u=http://abahnajibril.wordpress.com/"> <img src="http://i876.photobucket.com/albums/ab327/bootingskoblog/googletranslate/arabian.png" title="Arabian"></a>
And You Can Click For The Other Language Translator
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|bg&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Bulgarian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|hr&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Croatian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|cs&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Czech</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|da&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Denmark</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|nl&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Dutch</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|fi&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Finnish</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|el&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Greek</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|hi&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Hindi</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|it&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Italy</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|pt&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Portuguese</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ro&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Romanian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|ru&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Rusian</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|es&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Spanish</a>
<a href="http://translate.google.com/translate?hl=id&langpair=id|sv&u=http://bootingskoblog.wordpress.com/"> Swedish</a>
Hasilnya seperti ini :
And You Can Click For The Other Language Translator
Bulgarian
Croatian
Czech
Denmark
Dutch
Finnish
Greek
Hindi
Italy
Portuguese
Romanian
Rusian
Spanish
Swedish
Banner Untuk Sahabat (2)
Banner Ini diperuntukkan untuk saudara kami yaitu Abu Hatim Ath Thaliby
Contoh Banner Jadinya :

Kode HTML bannernya :
<a href="http://cooltext.com"><img src="http://images.cooltext.com/2000993.gif" width="200" height="54" alt="Abu Hatim Ath Thaliby" /></a>
Cara memasangnya di blog wordpress :
:
1. Login menggunakan akun blogspot/blogger
2. Klik Tampilan/tata letak atau rancangan
3. Lalu klik tambah gadget
4. Beri judul Tukeran Link atau apa aja sekehendak
5. Copy paste kode berikut didalam gadget teks
<a href="http://cooltext.com/"><img alt="Abu Hatym" height="69" src="http://images.cooltext.com/2000993.gif" width="200" /></a>
<textarea cols="23" rows="5"><a href="http://abuhatym.blogspot.com" target="_blank"><br /> <img border="0" width="200" title="KLIK Untuk Menuju Blog Abu Hatym!" src="http://images.cooltext.com/2000993.gif" width="200" height="69" alt="Abu Hatym" /></a>
Hasilnya seperti dibawah ini :

Contoh Banner Jadinya :
Kode HTML bannernya :
<a href="http://cooltext.com"><img src="http://images.cooltext.com/2000993.gif" width="200" height="54" alt="Abu Hatim Ath Thaliby" /></a>
Cara memasangnya di blog wordpress :
:
1. Login menggunakan akun blogspot/blogger
2. Klik Tampilan/tata letak atau rancangan
3. Lalu klik tambah gadget
4. Beri judul Tukeran Link atau apa aja sekehendak
5. Copy paste kode berikut didalam gadget teks
<a href="http://cooltext.com/"><img alt="Abu Hatym" height="69" src="http://images.cooltext.com/2000993.gif" width="200" /></a>
<textarea cols="23" rows="5"><a href="http://abuhatym.blogspot.com" target="_blank"><br /> <img border="0" width="200" title="KLIK Untuk Menuju Blog Abu Hatym!" src="http://images.cooltext.com/2000993.gif" width="200" height="69" alt="Abu Hatym" /></a>
Hasilnya seperti dibawah ini :
Bekal-Bekal Da'i (Bekal Ke 3)
BEKAL KETIGA : HIKMAH
Oleh : Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin
Seorang da’i haruslah menyeru kepada Alloh dengan hikmah. Dan alangkah pahitnya orang yang tidak memiliki hikmah. Dakwah ke jalan Alloh itu haruslah dengan : (1) hikmah, (2) mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik), (3) berdebat dengan cara yang lebih baik kepada orang yang tidak zhalim, kemudian (4) berdebat dengan cara yang tidak lebih baik kepada orang yang zhalim. Jadi, tingkatan ini ada empat. Alloh Ta’ala berfirman :
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـادِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl : 125)
Dan firman-Nya :
وَلاَ تُجَـادِلُواْ أَهْلَ الْكِتَـبِ إِلاَّ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ وَقُولُواْ ءَامَنَّا بِالَّذِى أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـهُنَا وَإِلَـهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
”Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS al-Ankabuut : 49)
Sesungguhnya hikmah itu adalah : menetapkan suatu perkara secara mantap dan tepat, dengan cara menempatkan suatu perkara pada tempatnya dan mendudukkan suatu perkara pada kedudukannya. Bukanlah termasuk hikmah apabila anda tergesa-gesa dan menginginkan manusia akan berubah keadaannya dari keadaan mereka sebelumnya menjadi seperti keadaan para sahabat hanya dalam sehari semalam.
Barangsiapa yang berkeinginan seperti itu maka ia adalah orang yang tolol akal fikirannya, jauh dari hikmah. Karena hikmah Alloh Azza wa Jalla jauh dari hal ini, dan yang menunjukkan hal ini kepada anda adalah, bahwa Muhammad Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, al-Kitab diturunkan kepada beliau secara bertahap sampai menjadi mantap dan sempurna di dalam jiwa.
Sholat diwajibkan pada saat mi’raj tiga tahun sebelum hijrah, ada yang berpendapat satu tahun setengah, ada juga yang berpendapat lima tahun. Para ulama berselisih pendapat tentangnya... namun, sholat ketika itu tidak diwajibkan sebagaimana kondisi saat ini. Sholat yang pertama kali diwajibkan adalah dua rakaat zhuhur, ashar, isya’ dan fajar serta tiga rakaat maghrib sebagai witir pada pertengahan hari. Setelah hijrah dan setelah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam melewati masa 13 tahuh di Makkah, rakaat shalat ditambah dan menjadi empat rakaat untuk zhuhur, ashar dan isya’, sedangkan sholat fajar (shubuh) tetap sebagaimana rakaat sebelumnya, dikarenakan panjangnya bacaan di dalamnya, juga demikian dengan maghrib yang tetap sebanyak tiga rakaat dikarenakan ia merupakan witr pada pertengahan hari.
Zakat diwajibkan pada tahun kedua setelah hijrah, atau (ada yang berpendapat) diwajibkan di Makkah namun belum ditentukan kadar nishab dan wajibnya, serta Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam juga belum mengutus perwakilan khusus untuk mengumpulkan zakat kecuali pada tahun kesembilan setelah hijrah. Hukum seputar zakat berkembang dalam tiga tahap : (1) di Makkah : ”Tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya”, namun belum diterangkan akan wajibnya juga belum diterangkan akan takarannya yang wajib serta urusan ini dipercayakan sepenuhnya kepada manusia. (2) tahun kedua hijriyah, telah diterangkan zakat dengan nishabnya, dan (3) pada tahun kesembilan hijriyah, Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam mengutus perwakilan khusus untuk memungut zakat kepada pemilik ladang dan harta. Maka cermatilah bagaimana perhatian khusus pensyariatan Alloh Azza wa Jalla terhadap kondisi manusia dan Dia (Alloh) adalah sebaik-baik pemberi keputusan (hakim).
Demikian pula dengan puasa, pensyariatannya dilakukan secara bertahap. Kewajiban pertama puasa adalah manusia diberikan kebebasan untuk memilih antara berpuasa atau memberi makan (fakir miskin), kemudian hukum puasa dispesifikasikan (menjadi wajib) dan memberi makan (fakir miskin) statusnya berubah boleh dilakukan oleh orang yang tidak mampu berpuasa secara terus menerus.
Saya berkata : Sesungguhnya hikmah itu menolak bahwa dunia ini dapat berubah hanya dalam sehari semalam, untuk itu haruslah ada kelapangan jiwa. Terimalah dari saudara yang anda dakwahi kebenaran yang ada padanya hari ini dan berjalanlah bersamanya secara bertahap sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia terbebas dari kebatilan. Janganlah anda beranggapan bahwa manusia itu memiliki tingkatan yang sama, karena sungguh berbeda antara orang yang jahil dengan orang yang menentang. Mungkin ada baiknya aku berikan beberapa contoh dari dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Contoh Pertama :
Seorang pria badui datang dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang duduk-duduk dengan sahabat-sahabat beliau di Masjid. Kemudian Badui itu kencing di salah satu sisi dalam Masjid, maka para sahabatpun mencercanya, yaitu menghardiknya dengan keras. Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang telah Alloh anugerahkan kepada beliau al-Hikmah melarang mereka. Setelah Badui itu menyelesaikan kencingnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan untuk menyiram kencingnya dengan satu ember air. Mafsadat (kerusakan) pun sirna lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memanggil Badui tersebut dan berkata padanya :
إن هذه المساجد لا يصلح فيها شيء من الأذى أو القذر إنما هي للصلاة وقراءة القرآن
“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak selayaknya di dalamnya ada sesuatu dari gangguan dan kotoran, sesungguhnya masjid itu hanyalah untuk sholat dan membaca al-Qur`an.”1 Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Maka menjadi lapanglah dada si Badui tersebut disebabkan oleh muamalah yang baik ini. Oleh karena itulah aku melihat sebagian ulama menukilkan ucapan Badui ini yang mengatakan:
اللهم ارحمني ومحمداً ولا ترحم معنا أحداً
“Ya Alloh rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau merahmati seorangpun selain kami.”
Karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah mensikapinya dengannya dengan sikap yang baik. Adapun para sahabat ridhwanullah ‘alaihi, mereka tergesa-gesa untuk menghilangkan kemungkaran, tanpa mempertimbangkan keadaan orang yang jahil.
Contoh Kedua :
Mu’awiyah bin al-Hakam radhiyallahu ‘anhu datang dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sedang sholat dengan manusia, kemudian salah seorang dari mereka bersin dan mengucapkan alhamdulillah –(perlu diketahui) apabila ada seseorang yang bersin maka hendaklah ia mengucapkan alhamdulillah baik di saat ia berdiri, ruku’ ataupun sujud-.
Orang ini (orang yang bersin) mengucapkan alhamdulillah, maka sekonyong-konyong Mu’awiyah meresponnya dengan mengucapkan yarhamukalloh. Hal ini termasuk berbicara di dalam sholat yang dapat membatalkan sholat. Orang-orang pun memandang dan melototi beliau. Mu’awiyah berkata : واثكل أمِّياه “ibuku telah kehilanganku”, dan واثكل maknanya adalah kehilangan.
Perkataan ini (yaitu واثكل أمِّياه) hanya diucapkan tanpa dimaksudkan makna sebenarnya. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah mengatakannya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengatakan : “Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang dapat mengendalikan itu semua?”, Mu’adz menjawab : “Tentu, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi bersabda : “Jagalah ini” dan beliau memegang lisannya sambil berkata, “jagalah ini”. Mu’adz berkata : “Apakah kita akan diadzab dikarenakan apa yang kita ucapkan?”, lantas Nabi menjawab :
ثكلتك أمك يا معاذ وهل يكب الناس في النار على وجوههم أو قال على مناخرهم إلا حصائد ألسنتهم
“Ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! Karena apa seseorang dijungkirbalikkan di dalam neraka di atas wajah mereka –atau dalam riwayat lain di atas hidung mereka- jika bukan karena buah perkataan lisan mereka.”2
Kemudian Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan sholatnya, setelah selesai sholat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memanggil beliau. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata :
فوالله ما رأيت معلماً أحسن تعليماً منه، اللهم صلي وسلم عليه، والله ما كهرني، ولا نهرني وإنما قال: «إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هي التسبيح، والتكبير وقراءة القرآن»
“Demi Alloh, belum pernah aku melihat seorang pendidik yang lebih baik cara mendidiknya daripada beliau. Semoga Alloh senantiasa memberikan sholawat dan salam kepada beliau. Demi Alloh, beliau tidak membentakku dan tidak pula mencercaku. Beliau hanya berkata, Sesungguhnya di dalam sholat ini tidak selayaknya ada sesuatu dari ucapan manusia, sesungguhnya sholat itu adalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur`an.”3 Atau sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Perhatikanlah dakwah yang dijawab oleh jiwa dan diterima oleh manusia serta melapangkan dada ini!!!
Kita mengambil dari hadits ini sebuah faidah fiqhiyyah, yaitu bahwasanya barang siapa yang berbicara di dalam sholatnya, sedangkan ia tidak mengetahui bahwa hal itu dapat membatalkan sholat maka sholatnya sah.
Contoh Ketiga :
Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata : ”Wahai Rasulullah, saya telah binasa”. Rasulullah bertanya : ”Apa yang membinasakanmu?”. Orang itu menjawab : ”Aku telah menggauli isteriku di bulan Ramadhan sedang aku tengah berpuasa.” Lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkannya untuk memerdekakan budak, dan orang itu menjawab, “saya tidak punya”. Lalu Nabi memerintahkannya untuk berpuasa dua bulan berturut-turut, dan orang itu menjawab, ”aku tidak mampu”. Kemudian beliau memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin dan ia tetap menjawab, ”aku tidak mampu”. Lalu orang itu duduk dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam datang sambil membawa kurma sembari berkata : ”ambillah ini dan sedekahkanlah”.
Namun, orang tersebut menjadi loba terhadap kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang mana beliau adalah orang yang paling dermawan terhadap makhluk, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah orang yang paling mulia. Orang itu berkata : ”Apakah aku harus mensedekahkannya kepada orang yang lebih miskin dariku wahai Rasulullah? Demi Alloh, tidak ada keluarga yang lebih miskin dari keluargaku diantara dua dataran (Madinah) ini.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun tertawa sampai tampak gigi taring atau gerahamnya. Hal ini disebabkan karena orang ini datang dengan rasa takut dan berkata ”aku telah binasa” namun ia pergi dengan gembira. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Berilah makan keluargamu dengan kurma ini.”4 Maka orang itupun pergi dengan rasa tenang dan riang gembira dengan agama ini dan dengan kemudahan dari da’i pertama (yaitu Nabi) terhadap agama Islam ini, semoga Shalawat dan Salam Alloh senantiasa tercurahkan kepada beliau.
Contoh Keempat :
Mari kita perhatikan bagaimana cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bermuamalah dengan orang yang berbuat dosa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melihat seorang pria menggunakan cincin emas di tangannya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melepaskan cincin itu dengan tangannya yang mulia dan membuangnya di tanah. Lalu beliau bersabda :
يعمد أحدكم إلى جمرة من نار فيضعها في يده
”Salah seorang dari kalian dengan sengaja melihat bara api dari neraka dan menggunakannya di tangannya”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak bermuamalah dengannya sebagaimana bentuk muamalah pada awal tadi, namun beliau mencabutnya dari tangannya dan membuangnya ke tanah. Tidak lama setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pergi, ada seseorang yang berkata kepada orang itu : ”ambil cincinmu dan manfaatkanlah”. Namun orang itu berkata :
والله لا آخذ خاتماً طرحه النبي صلى الله عليه وسلّم
”Demi Alloh, saya tidak akan mengambil cincin yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah membuangnya.” 5
Allohuakbar, sungguh ini adalah kepatuhan yang luar biasa pada sahabat ridhawanullahu ’alaihim.
Yang penting, wajib bagi da’i untuk berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla dengan hikmah dan tidaklah sama antara orang jahil dengan orang berilmu, antara orang yang menentang dengan orang yang menerima. Setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada kondisinya tersendiri.
1. Dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabul Wudhu` , Bab Tarkun Nabii Shallallahu ’alaihi wa Salam wan Naas al-A’robiy hatta farogho min Baulihi fil Masjid (219); Kitabul Wudhu`, Bab Shubbul Maa` ’ala Baul fil Masjid (221) dan Kitab al-Adab, Bab ar-Rifqu fil Amri Kulluhu (625); dan Muslim di dalam Kitabuth Thoharoh, Bab Wujubu Ghoslil Baul wa Ghoirihi minan Najasaat (285).
2. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (2236), Turmudzi pada Bab-Bab al-Iman, Bab Ma ja’a fi Hurmatish Sholah (2616) dan Ibnu Majah di dalam bab-bab al-Fitan, Bab Kaf al-Lisaan fil Fitnah (3973).
3. Dikeluarkan oleh Muslim, Kitabul Masajid, Bab Tahrimul Kalam fish Sholah (537).
4. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitabush Shaum Bab Idza Jama’a fi Ramadhan wa lam yakun lahu syai’ fatashoddaqo ‘alaihi falyukaffir (1936) dan Muslim dalam Kitabush Shiyam Bab Taghlith Tahrim al-Jima’ fi Nahari Ramadhan (1111).
5. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Kitabul Libaas Bab Tahrimu Khotam adz-Dzahab ‘alar Rijaal (2090).
Senin, 14 Maret 2011
Bekal-Bekal Da'i (Bekal Ke 2)
BEKAL KEDUA : SABAR
Oleh : Syaikh Muhammad Bin sholih Al-Ustaimin
Seorang da’i haruslah bersabar di atas dakwahnya, sabar atas apa yang ia dakwahkan, sabar terhadap orang yang menentang dakwahnya dan sabar atas segala aral rintangan yang menghadangnya.
Seorang da’i haruslah bersabar dan berupaya menetapi kesabaran di dalam berdakwah, jangan sampai ia berhenti atau jenuh, namun ia harus tetap terus berdakwah ke jalan Alloh dengan segenap kemampuannya. Terlebih di dalam kondisi dimana berdakwah akan lebih bermanfaat, lebih utama dan lebih tepat, maka ia haruslah benar-benar bersabar di dalam berdakwah dan tidak boleh jenuh, karena seorang manusia apabila dihinggapi kejenuhan maka ia akan letih dan meninggalkan (dakwah). Akan tetapi, apabila ia menetapi kesabaran di atas dakwahnya, maka ia akan meraih pahala sebagai orang-orang yang sabar di satu sisi, dan di sisi lain ia akan mendapatkan kesudahan yang baik.
Dengarkanlah firman Alloh Azza wa Jalla yang menyeru Nabi-Nya :
تِلْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَآ أَنتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَـذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَـقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang hal yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Huud : 49)
Seorang manusia (baca : da’i) tetaplah harus bersabar atas segala hal yang merintangi dakwahnya berupa sanggahan-sanggahan dan bantahan-bantahan, karena setiap manusia yang menjadi seorang da’i di jalan Alloh azza wa Jalla pastilah akan menghadapi rintangan :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً
“Dan seperti itulah, Telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS al-Furqon : 31)
Setiap dakwah yang benar, pastilah akan menghadapi orang yang merintangi, menghalangi, membantah dan menebarkan keragu-raguan. Namun, wajiblah bagi seorang da’i bersabar menghadapi segala sesuatu yang merintangi dakwahnya. Meskipun dakwahnya disifati dengan dakwah yang salah atau batil, sedangkan ia mengetahui bahwa dakwahnya itu berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka ia tetaplah harus bersabar.
Ini bukan artinya seseorang juga harus bersabar atas apa yang ia katakan atau ia dakwahkan walaupun telah jelas baginya kebenaran. Karena barangsiapa yang tetap bersikeras dengan apa yang ia dakwahkan padahal telah telas baginya kebenaran, maka ia serupa dengan orang yang Alloh firmankan :
يُجَـادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ
“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah jelas (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS al-Anfaal : 6)
Berbantahan tentang kebenaran sesudah jelas bahwa adalah sifat yang tercela, Alloh berfirman tentang orang yang disifatkan demikian :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisaa` : 115).
Jadi, segala hal yang merintangi dakwah anda wahai para da’i, apabila hal itu benar maka wajib bagi anda kembali kepada kebenaran tersebut, dan apabila batil maka jangan sampai tekad anda dibelokkan dari tujuan semula pada dakwah anda.
Demikian pula, seorang da’i haruslah bersabar atas segala aral rintangan yang menghadang, karena seorang da’i itu dia pastilah akan dihalang-halangi baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Lihatlah para Rasul Sholawatullah wa Salamuhu ‘alaihim yang dihalang-halangi dengan perkataan dan perbuatan, bacalah firman Alloh Azza wa Jalla :
كَذَلِكَ مَآ أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ قَالُواْ سَـحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
“Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (QS adz-Dzaariyaat : 51)
Bagaimana pandangan anda terhadap orang yang diberi wahyu dari Rabb-nya dan dikatakan di mukanya : “sesungguhnya kamu adalah seorang tukang sihir atau orang gila”? Tidak diragukan, ia akan merasa terluka. Walaupun begitu, para rasul tersebut tetap bersabar atas gangguan yang mereka alami berupa perkataan ataupun perbuatan.
Lihatlah kepada rasul pertama Nuh ‘alaihish Sholatu was Salam, suatu ketika kaumnya melewati beliau dan beliau pada saat itu sedang membangun sebuah kapal lalu mereka mencela beliau, lantas beliau berkata kepada mereka :
إِن تَسْخَرُواْ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ * فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
“(Berkatalah Nuh) Jika kamu mengejek kami, Maka Sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (Kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS Huud : 38-39)
Mereka tidak hanya mengejek beliau, namun mulai mengancam untuk membunuh beliau :
قَالُواْ لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ ينُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُرْجُومِينَ
“Mereka berkata: Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS asy-Syu’araa` : 116)
Artinya adalah, beliau termasuk orang-orang yang akan dibunuh dengan cara dilempari batu. Di sini ada ancaman mati dengan implikasi bahwa “kami telah melempari orang selain dirimu” untuk menampakkan keperkasaan mereka (kaum nabi Nuh) sedangkan mereka telah merajam orang lain “dan engkau (Nuh) adalah termasuk mereka.” Namun, hal ini tidaklah memalingkan Nuh ’alaihish Sholatu was Salam dari dakwah beliau, bahkan beliau tetap terus melangsungkan dakwahnya sampai Alloh membukakan untuknya dan untuk kaumnya kemenangan.
Dan lihatlah Ibrahim ‘alaihish Sholatu was Salam, kaumnya menghadapinya dengan penentangan, bahkan mereka mengolok-olok beliau di hadapan manusia :
قَالُواْ فَأْتُواْ بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ
“Mereka berkata: (Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (QS al-Anbiyaa` : 61)
Kemudian mereka mengancam akan membakar beliau :
قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَانصُرُواْ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَـعِلِينَ
”Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS al-Anbiyaa` : 68).
Lalu mereka mengobarkan api yang sangat besar dan mereka melempari beliau dengan manjanik (ketapel raksasa) disebabkan jarak mereka yang jauh dikarenakan panasnya api. Akan tetapi, Rabb pemilik keperkasaan dan kemuliaan ber-firman:
قُلْنَا ينَارُ كُونِى بَرْداً وَسَلَـمَا عَلَى إِبْرَهِيمَ
”Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS al-Anbiyaa` : 69).
Maka menjadilah api itu dingin dan keselamatan baginya, dan kesudahan yang baik adalah bagi Ibrahim :
وَأَرَادُواْ بِهِ كَيْداً فَجَعَلْنَـهُمُ الاَْخْسَرِينَ
”Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS al-Anbiyaa` : 70)
Lihatlah Musa ‘alaihish Sholatu was Salam dan bagaimana Fir’aun mengancam untuk membunuh beliau :
ذَرُونِى أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّى أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُـمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِى الاَْرْضِ الْفَسَادَ
”Dan Berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): Biarkanlah Aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, Karena Sesungguhnya Aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS Ghaafir : 26)
Ia mengancam untuk membunuh beliau akan tetapi perkara berbicara lain dan kesudahan yang baik adalah bagi Musa ‘alaihish Sholatu was Salam
وَحَاقَ بِـَالِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ
”Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS Ghaafir : 45)
Lihatlah Isa ‘alaihish Sholatu was Salam yang mendapatkan gangguan sampai-sampai kaum Yahudi menuduh beliau sebagai anak pezina. Mereka membunuh beliau dengan asumsi mereka dan menyalibnya, akan tetapi Alloh Ta’ala berfirman :
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً
”Mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah Telah mengangkat Isa kepada-Nya]. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa` : 157-158).
Maka Allohpun menyelamatkan beliau.
Dan lihatlah penutup dan imam para nabi, penghulu anak cucu Adam, Muhammad Shallallahu ’alaihi was Salam. Alloh berfirman tentang beliau :
يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَـكِرِينَ
”Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS al-Anfaal : 30)
وَيَقُولُونَ أَءِنَّا لَتَارِكُو ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ
”Dan mereka berkata: Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?.” (QS ash-Shaaffaat : 36).
Beliaupun menghadapi gangguan-gangguan berupa perkataan maupun perbuatan, yang mana hal ini telah diketahui oleh para ulama di dalam buku-buku Tarikh (Sejarah) dan kesudahan yang baik adalah bagi beliau.
Jadi, setiap da’i pastilah akan menemui gangguan, namun ia haruslah dapat bersabar menghadapinya. Oleh karena itulah, Alloh Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi was Salam :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ تَنزِيلاً
”Sesungguhnya kami Telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS al-Insaan : 23)
Mungkin dikira Alloh akan berfirman (setelah ayat di atas) : ”maka bersyukurlah kamu atas nikmat Alloh yang menurunkan al-Qur`an ini secara berangsur-angsur”, padahal Alloh berfirman pada beliau :
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تُطِعْ مِنْهُمْ ءَاثِماً أَوْ كَفُوراً
”Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.” (QS al-Insaan : 24)
Hal ini menunjukkan bahwa orang yang menerima al-Qur`an ini, maka ia akan mendapatkan perkara-perkara yang memerlukan kesabaran yang besar. Maka hendaklah bagi setiap da’i mau bersabar dan tetap terus berdakwah sampai Alloh membukakan (kemenangan) baginya, namun (ingat) Alloh tidak mesti membukakan (kemenangan) baginya di dalam kehidupannya. Yang penting adalah dakwahnya tetap langgeng di tengah-tengah manusia, tetap kuat dan diikuti. Tidaklah penting figur tersebut namun yang penting adalah dakwahnya, apabila dakwahnya tetap langgeng bahkan setelah ia matipun, maka sesungguhnya ia tetap hidup. Alloh Azza wa Jalla berfirman :
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَـهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِى النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَـتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَـفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
”Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS al-An’aam : 122)
Pada hakikatnya, kehidupan seorang da’i tidaklah berarti ruhnya tetap berada di dalam jasadnya saja, namun ucapannya tetap hidup di tengah-tengah manusia.
Lihatlah kisah Abi Sufyan dengan Heraklius yang telah mendengar keluarnya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam. Ia memanggil Abu Sufyan dan menanyakan kepadanya tentang Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam, perihal keadaan beliau, nasab beliau, apa yang beliau dakwahkan dan keadaan para sahabat beliau.
Kemudian ketika Abu Sufyan menceritakan kepadanya tentang apa yang ia tanyakan, Heraklius berkata kepadanya :
إن كان ما تقول حقّاً فسيملك ما تحت قدمي هاتين
”Apabila yang engkau katakan itu benar, maka ia akan segera menduduki negeri yang berada di bawah kedua telapak kakiku ini.”1
Subhanalloh, siapa yang dapat membayangkan bahwa seorang raja imperium (Romawi), sebagaimana mereka katakan, dapat mengatakan perkataan ini tentang Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam, padahal beliau belum membebaskan jazirah Arab dari penghambaan terhadap syaithan dan hawa nafsu? siapa yang dapat membayangkan bahwa orang seperti ini akan mengatakan sebagaimana yang ia katakan? Oleh karena itulah ketika Abu Sufyan keluar, ia mengatakan kepada kaumnya :
لقد أمِر أمر ابن أبي كبشة إنه ليخافه ملك بني الأصفر
”Sungguh besar urusan Ibnu Abi Kabasyah (Muhammad, pent.), sesungguhnya ia benar-benar ditakuti oleh raja Bani al-Ashfar (Bizantium).” kata أمِر bermakna عظم ”agung/besar”, seperti firman Alloh :
لقد جئت شيئاً إمرا
”Engkau benar-benar datang dengan sesuatu yang besar/agung.” yaitu عظيماً ”besar”.
Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam sungguh telah menguasai negeri yang berada di bawah kedua telapak kaki Heraklius dengan dakwah beliau, bukan dengan figur pribadi beliau. Karena dakwah beliau telah datang ke negeri ini dan memusnahkan berhala-berhala, kesyirikan dan para pelakunya. Para Khalifah Rasyidin menguasainya setelah Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam, mereka menguasainya dengan dakwah dan syariat Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam.
Oleh karena itu, hendaklah setiap da’i itu bersabar dan ia akan mendapatkan kesudahan yang baik selama rentang hidupnya dan setelah matinya, apabila ia jujur kepada Alloh.
إِنَّ الأَرْضَ للَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَـقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
”Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-A’raaf : 128)
Dan firman-Nya :
إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيِصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
”Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS Yusuf : 90)
1. Dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam Kitab Bada`ul Wahyu, Bab Kaifa Kaana Bada`ul Wahyu ila Rasulillah Shallallahu ’alaihi wa Salam (7).
Banner untuk Sahabat
Banner Ini diperuntukkan untuk saudara kami yaitu Abu Namira dengan url blognya www.abunamira.wordpress.com
Contoh Banner Jadinya :

Kode HTML bannernya :
<a href="http://cooltext.com"><img src="http://images.cooltext.com/1999548.gif" width="197" height="69" alt="Abu Namira" /></a>
Cara memasangnya di blog wordpress :
:
1. Login menggunakan akun wordpress
2. Klik Tampilan
3. Lalu klik widget Teks
4. Beri judul Tukeran Link atau apa aja sekehendak
5. Copy paste kode berikut didalam widget teks
<a href="http://cooltext.com/"><img alt="Abu Namira" height="69" src="http://images.cooltext.com/1999548.gif" width="180" /></a>
<textarea cols="20" rows="5"><a href="http://abunamira.wordpress.com" target="_blank"><br /> <img border="0" width="200" title="KLIK Untuk Menuju Blog Abu Namira!" src="http://images.cooltext.com/1999548.gif" width="200" height="71" alt="Abu Namira" /></a></textarea>
Hasilnya seperti dibawah ini :

Contoh Banner Jadinya :
Kode HTML bannernya :
<a href="http://cooltext.com"><img src="http://images.cooltext.com/1999548.gif" width="197" height="69" alt="Abu Namira" /></a>
Cara memasangnya di blog wordpress :
:
1. Login menggunakan akun wordpress
2. Klik Tampilan
3. Lalu klik widget Teks
4. Beri judul Tukeran Link atau apa aja sekehendak
5. Copy paste kode berikut didalam widget teks
<a href="http://cooltext.com/"><img alt="Abu Namira" height="69" src="http://images.cooltext.com/1999548.gif" width="180" /></a>
<textarea cols="20" rows="5"><a href="http://abunamira.wordpress.com" target="_blank"><br /> <img border="0" width="200" title="KLIK Untuk Menuju Blog Abu Namira!" src="http://images.cooltext.com/1999548.gif" width="200" height="71" alt="Abu Namira" /></a></textarea>
Hasilnya seperti dibawah ini :
Minggu, 13 Maret 2011
Cara Mudah Membuat Banner
Tak dipungkiri didunia per-blog-an banner adalah salah satu sarana yang dapat meningkatkan traffic blog kita, dengan berbagi dan bertukar banner diantara kawan-kawan sesama blogger, tentu memudahkan pengunjung untuk berkunjung ke blog / situs anda, caranya hanya tinggal di klik banner kita maka si pengunjung akan terbang terbawa dan singgah di teras blog kita.
Nah apalagi jika banner yang kita buat itu menarik, tentunya akan mengundang si pengunjung untuk lebih penasaran mengetahui isi dari blog kita.
Cara gampang kok, ikuti aja beberapa trik berikut ini :
1. Login ke blogger
2. Pilih Tata Letak lalu klik Tambah Gadget
3. Pilih HTML/JavaScript
4. Masukan / copas kode HTML berikut ini
<a href="http://abuiram.blogspot.com" target="_blank">
<img border="0" width="123" title="KLIK!" src="http://images.cooltext.com/1960906.gif" height="34"/></a>
<!------------------------------------------------------------>
<textarea rows="3" cols="16"><a href="http://abuiram.blogspot.com" target="_blank">
<img border="0" width="123" title="KLIK!" src="http://images.cooltext.com/1960906.gif" height="34"/></a></textarea>
Nah Sebelum disimpan, berikut ini ada yang perlu kita ubah.
- Diatas kode <!-----> adalah bannernya dan di bawahnya adalah textarea, kotak berisi kode banner.
- http://abuiram.blogspot.com adalah URL yang dituju, kita ganti dengan URL kita sendiri.
- http://images.cooltext.com/1960906.gif adalah URL gambar atau logo banner.
- Kita juga dapat mengatur lebar dan tinggi banner dengan mengubah angka-angka pada width dan height. dan kotak (textarea) dengan mengubah angka pada rows dan cols. Kalaupuan tidak diubah juga tidak akan jadi masalah
Keutamaan Shalat Isyroq
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat shubuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[3].
Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
Artikel www.muslim.or.id
[1] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri. [2] HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).
[3] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “at-Targhib wat tarhib” (1/111-shahih at-targhib).
[4] Bahkan penamaan ini dari sahabat Ibnu Abbas t, lihat kitab “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).
[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).
[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).
[7] Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “asy-Syarhul mumti’” (2/61).
[8] Dalam HSR Muslim (no. 831).
[9] HSR Muslim (no.670) dan at-Tirmidzi (no.585).
[10] Demikian keterangan yang kami pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah.
[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).
Lalu apakah shalat Isyroq itu sendiri?
Para ulama katakan bahwa shalat isyroq adl shalat Dhuha di awal waktu.
Berikut ini kami nukilkan fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah.
Tanya:
Apakah shalat sunnah Isyroq termasuk bagian dari shalat sunnah Dhuha?
Jawab:
Iya, shalat sunnah Isyroq merupakan bagian dari shalat sunnah Dhuha. Jika shalat Dhuha itu dikerjakan di awal waktu ketika matahari terbit dan setinggi tombak, maka ini disebut shalat Isyroq. Jika dikerjakan di akhir atau pertengahan waktu, maka ini disebut shalat Dhuha. Karena para ulama mengatakan bahwa waktu shalat Dhuha adalah mulai dari matahari setinggi tombak hingga mendekati waktu zawal (matahari mulai bergeser ke barat).
[Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 141]
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid[1] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“[2].Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat shubuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[3].
Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama[4] dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha[5].
- Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… sampai matahari terbit“, artinya: sampai matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak[6], yaitu sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit[7], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika lurus di tengah-tengah langit[8].
- Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat shubuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi”[9].
- Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah di mesjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak berbicara atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar mesjid untuk berwudhu dan segera kembali ke mesjid[10].
- Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.
- Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah[11].
- Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan berarti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.
Artikel www.muslim.or.id
[1] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri. [2] HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).
[3] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “at-Targhib wat tarhib” (1/111-shahih at-targhib).
[4] Bahkan penamaan ini dari sahabat Ibnu Abbas t, lihat kitab “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).
[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).
[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).
[7] Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “asy-Syarhul mumti’” (2/61).
[8] Dalam HSR Muslim (no. 831).
[9] HSR Muslim (no.670) dan at-Tirmidzi (no.585).
[10] Demikian keterangan yang kami pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah.
[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).
Lalu apakah shalat Isyroq itu sendiri?
Para ulama katakan bahwa shalat isyroq adl shalat Dhuha di awal waktu.
Berikut ini kami nukilkan fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah.
Tanya:
Apakah shalat sunnah Isyroq termasuk bagian dari shalat sunnah Dhuha?
Jawab:
Iya, shalat sunnah Isyroq merupakan bagian dari shalat sunnah Dhuha. Jika shalat Dhuha itu dikerjakan di awal waktu ketika matahari terbit dan setinggi tombak, maka ini disebut shalat Isyroq. Jika dikerjakan di akhir atau pertengahan waktu, maka ini disebut shalat Dhuha. Karena para ulama mengatakan bahwa waktu shalat Dhuha adalah mulai dari matahari setinggi tombak hingga mendekati waktu zawal (matahari mulai bergeser ke barat).
[Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 141]
Sabtu, 12 Maret 2011
Bekal-Bekal Da'i
BEKAL PERTAMA : BERILMU
Bersama Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin Rahimahulloh
Seorang da’i haruslah memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan di atas ilmu yang shahih yang berangkat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Karena setiap ilmu yang diambil dari selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, wajib diteliti terlebih dahulu. Setelah menelitinya, maka dapat menjadi jelas apakah ilmu tersebut selaras ataukah menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Apabila selaras maka diterima dan apabila menyelisihi maka wajib menolaknya tidak peduli siapapun yang mengucapkannya.
Telah tetap sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya beliau berkata :
يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء أقول: قال رسول الله وتقولون: قال أبو بكر وعمر
“Sungguh nyaris kalian ditimpa hujan batu dari langit. Saya mengatakan sabda Rasulullah, kalian malah menjawab dengan ucapan Abu Bakr dan ’Umar.”
Apabila pada ucapan Abu Bakr dan ’Umar yang menyelisihi ucapan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam saja (diancam) seperti ini, lantas bagaimana menurut anda dengan ucapan orang yang keilmuan, ketakwaan, persahabatan dan kekhilafahannya di bawah keduanya (Abu Bakr dan ’Umar)?!
Sesungguhnya, menolak ucapan orang yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam adalah suatu hal yang lebih utama. Alloh Azza wa Jalla telah berfirman :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَـالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS an-Nuur : 63)
Imam Ahmad rahimahullahu berkata :
أتدري ما الفتنة؟ الفتنة الشرك، لعله إذا ردّ بعض قوله أن يقع في قلبه شيء من الزيغ فيهلك
”Apakah anda tahu apa yang dimaksud dengan fitnah (dalam ayat di atas, pent.)? fitnah adalah syirik. Bisa jadi ketika ia menolak sebagian ucapan Rasulullah akan masuk ke dalam hatinya sesuatu kesesatan yang pada akhirnya akan membinasakannya.”
Sesungguhnya, bekal pertama yang seharusnya seorang da’i di jalan Alloh mempersiapkannya adalah, ia harus berada di atas ilmu yang diambil dari Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi wa Salam yang shahih lagi maqbul (diterima). Adapun dakwah tanpa ilmu maka sesungguhnya ini termasuk dakwah di atas kejahilan, dan berdakwah di atas kejahilan itu madharatnya lebih besar dibandingkan manfaatnya. Karena da’i yang berdakwah di atas kejahilan ini, menempatkan dirinya sebagai seorang yang mengarahkan dan membimbing.
Apabila ia orang yang jahil, maka dengan melakukan dakwah seperti ini (di atas kejahilan), dapat menyebabkannya sesat dan menyesatkan, wal’iyadzubillah. Kejahilannya ini akan menjadi jahlul murokkab (kebodohan yang bertingkat) sedangkan jahlul murokkab itu lebih buruk dibandingkan jahlul basith. Karena jahlul basith itu dapat menahan pelakunya dan tidak akan berbicara, dan bisa jadi ia dapat menghilangkan kejahilannya dengan belajar. Tetapi, yang menjadi sumber segala permasalahan adalah keadaan orang yang jahil murokkab, karena orang yang jahil murokkab ini tidak mau diam, ia akan terus berbicara walaupun dari kejahilannya. Pada saat itulah ia menjadi orang yang lebih banyak membinasakan daripada menerangi.
Saudaraku sekalian, sesungguhnya berdakwah ke jalan Alloh tanpa diiringi dengan ilmu itu menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam dan orang yang mengikuti beliau. Dengarkanlah firman Alloh Ta’ala yang memerintahkan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam dalam firman-Nya berikut :
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِى أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
”Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashiroh (hujjah yang nyata). Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".” (QS Yusuf : 108)
Firman-Nya : ” Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashiroh (hujjah yang nyata)”, artinya adalah : orang yang mengikuti beliau Shallallahu ’alaihi wa Salam, wajib atasnya berdakwah mengajak kepada Alloh di atas bashiroh, tidak di atas kejahilan.
Renungkanlah wahai para da’i firman Alloh ”di atas bashiroh”, yaitu di atas bashiroh pada tiga hal :
Pertama : di atas bashiroh terhadap apa yang di dakwahkan, yaitu ia haruslah memiliki ilmu (baca : mengetahui) tentang hukum syar’i yang ia dakwahkan. Karena bisa jadi ia mengajak kepada sesuatu yang ia duga sebagai suatu hal yang wajib sedangkan di dalam syariat tidaklah wajib, sehingga ia mengharuskan hamba-hamba Alloh sesuatu yang Alloh tidak mengharuskannya. Bisa jadi pula ia mengajak untuk meninggalkan sesuatu yang ia anggap haram sedangkan hal itu di dalam agama Alloh tidaklah haram, sehingga ia telah mengharamkan bagi hamba-hamba Alloh sesuatu yang Alloh halalkan bagi mereka.
Kedua : di atas bashiroh terhadap kondisi dakwah (baca : kondisi obyek dakwah, pent.), oleh karena itulah Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam tatkala mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan padanya :
إنك ستأتي قوماً أهل كتاب
”Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab”1
Supaya dia (Mu’adz) mengetahui kondisi mereka dan bersiap-siap di dalam menghadapi mereka.
Oleh karena itulah kondisi mad’u (obyek dakwah) ini haruslah diketahui, sejauh mana tingkat pengetahuan mereka? Sejauh mana kemampuan mereka untuk debat? Sehingga ia dapat mempersiapkan dirinya untuk berdiskusi dan berdebat dengan mereka. Karena sesungguhnya, apabila anda memasuki perdebatan dengan orang seperti ini (baca : yang lebih berilmu dan pandai debat sedangkan anda tidak mengetahuinya, pent.), sedangkan dia lebih tangguh di dalam berdebat, maka hal ini akan menjadi bencana yang besar terhadap kebenaran, dan andalah penyebab ini semua.
Anda jangan pernah sekali-kali beranggapan bahwa para pelaku kebatilan pasti gagal di dalam segala hal, padahal Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :
إنكم تختصمون إليّ ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأقضي له بنحو ما أسمع
”Sesungguhnya kalian bertikai dan datang melapor kepadaku, dan bisa jadi ada sebagian dari kalian yang lebih lihai di dalam mengemukakan hujjahnya daripada yang lainnya sehingga aku memutuskannya berdasarkan apa yang aku dengar.”2
Hadits ini menunjukkan bawah seorang yang bertikai, walaupun ia seorang yang batil, terkadang ia lebih cakap di dalam mengemukakan hujjahnya daripada orang lain, sehingga diputuskan berdasarkan apa yang didengar dari orang yang bertikai ini, oleh karena itulah anda harus mengetahui kondisi mad’u.
Ketiga : di atas bashiroh di dalam cara berdakwah. Alloh Ta’ala berfirman :
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـدِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl : 125).
Sebagian manusia, acap kali ketika menjumpai suatu kemungkaran, ia langsung terburu-buru main sikat. Ia tidak berfikir akan dampak dan akibat perbuatannya ini, tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi dirinya dan rekan seperjuangannya sesama da’i yang menyeru kepada kebenaran. Oleh karena itulah, wajib bagi seorang da’i sebelum ia bergerak (untuk berdakwah), hendaknya ia mencermati dan menimbang dampak-dampaknya. Kadang kala, dapat juga terjadi pada waktu itu, sesuatu yang tidak hanya akan memadamkan kobaran semangat atas aktivitasnya (baca : dakwahnya), namun perbuatannya ini juga akan memadamkan api semangatnya dan semangat orang selainnya di masa yang akan datang, mungkin dalam waktu dekat tidak lama lagi. Oleh karena itulah, aku menganjurkan saudara-saudaraku agar berdakwah dengan menggunakan hikmah dan ta`anni (baca : tenang, tidak tergesa-gesa), suatu perkara yang mungkin akan menunda waktu barang sedikit, namun hasilnya akan terpuji dengan kehendak Alloh Ta’ala.
Apabila hal ini, maksudku da’i yang berbekal dengan ilmu shahih yang dibangun di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, merupakan sesuatu yang ditunjukkan oleh nash-nash syar’iyyah, maka sesungguhnya (hal ini) juga ditunjukkan oleh akal yang sharih (terang) yang tidak memiliki syubhat maupun syahwat. Karena bagaimana mungkin anda dapat berdakwah menyeru kepada Alloh Jalla wa ’Ala sedangkan anda tidak mengetahui jalan yang dapat mengantarkan kepada-Nya. Anda tidak mengetahu syariat-Nya lantas bagaimana bisa dibenarkan anda menjadi seorang da’i? Apabila seorang manusia tidak memiliki ilmu, maka yang utama baginya adalah belajar terlebih dahulu, baru kemudian ia boleh berdakwah.
Mungkin akan ada yang berkata : ”Bukankah ucapan anda ini menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :
بلغوا عني ولو آية
”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat.”3
Maka saya jawab : tidak. Karena Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda : ”Sampaikan dariku”, oleh karena itulah sesuatu yang kita sampaikan haruslah benar-benar dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam. Dan inilah yang kami maksudkan. Pada saat kami mengatakan bahwa da’i itu memerlukan ilmu, kami bukanlah memaksudkan bahwa ia haruslah mencapai tingkatan orang yang ahli di dalam ilmu, namun kami mengatakan bahwa ia tidak boleh berdakwah melainkan dengan apa yang ia ketahui saja dan tidak boleh berkata melainkan dengan yang ia ketahui.
1. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitabuz Zakah, Bab Akhdzush Shodaqoh minal Aghniya’ wa taruddu ilal Fuqoro` haitsu kaanuu (1469) dan Muslim dalam Kitabul Iman, Bab as-Du`a’ ila asy-Syahadatain wa Syaro’i` al- Islam (13), (19).
2. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabusy Syahadaat, Bab man Aqoomal Bayyinah ba’dal Yamiin (2680) dan Kitabul Ahkaam, Bab Mau’izhatul Imam lil Hadhorim (7169) serta Muslim di dalam Kitab Bab Bayaan anna Hukmal Haakim la yughoyyirul Bathin (1713).
3. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitab Ahaadits al-Anbiya`, Bab Ma dzakaro ’an Bani Isra`il (3461).
Langganan:
Postingan (Atom)


